Alergi Basa-basi

Dalam hidup, cuma kita yang mengerti bagian kita, setujukah temen-temen? Seperti perjalanannya, kita tahu cerita orang tanpa utuhnya. Sehari-hari kita saling bertemu walau maya dan sekadar saja. Satu hal yang masih eksis di tengah masyarakat, basa-basi. Tetapi bukankah berkata yang baik lebih utama dari pada melukai hati sesama manusia dengan lisan kita yang potensial salah ini. So, here’s gonna be about alergi basa-basi.

Sahabat terdekatku ada tiga, walau kami tak serta merta sahabatan berempat. Kami bertiga bersahabat sudah 15 tahun, lalu aku juga dekat dengan seorang lagi kini sudah 10 tahun. Titik perjalanan hidup kami semua tidak ada yang sama, tapi kami sepakat, pertanyaan basa-basi yang biasa ada di pembicaraan sehari-hari itu nyakitin.

My besties are diamonds to me. E is single, S is also single. M is married. Kami sepakat setiap fase, perjalanan, itu bertumbuh. After married, H, a little boy come as an inspiration for me. Walaupun dalam fase yang berbeda-beda seperti ini, kami berempat merasakan pengalaman serupa dalam hal tetap mendapatkan pertanyaan basa-basi dari orang. Sejauh yang kuingat, dari keluarga, teman, rekan kerja, ah teman lama yang lama tak jumpa lalu bertukar sapa di sosial media, dan salah satu yang awkward saat seorang anak muda tanggung yang sebenernya kami tidak saling mengetahui bagaimana kehidupan satu sama lain. Betapa mind-blowing moment itu bagiku.

E is beautiful and smart, she’ll graduate her master degree earlier from now. Kalau-kalau dia ditanyai lagi kenapa belum menikah, aku bakal ikutan marah sih. She has option and took responsibility for it, tapi ada aja strangers yang masih nikmatin menembakkan pertanyaan basa-basi itu. Malesin lho.

S is creative and well-organised. Setelah selesaikan tesisnya yang menurutku luar biasa, dia mengajar sambil bantu usaha orang tuanya di rumah. Dalam kesibukan itu, terkait fisiknya yang lebih kurus, pertanyaan basa-basi busuk juga sering diterima.

M is energetic and passionate. Sekarang asik banget pacaran sama suaminya (dunia serasa milik berdua ya lovebird hihihi). Sejak awal perjalanannya menikah, pertanyaan kapan punya anak rame banget. Padahal pernikahan bukan ikatan untuk menghasilkan keturunan! Segala sesuatu yang membutuhkan ikhtiar dan pilihan di dalamnya, itu bukan kodrat, temen-temen. Stop menjadi hakim moral, kita tidak bisa menciptakan lingkungan kebaikan anak-anak di masa depan dengan mempertahankan kebiasaan yang menyakiti orang lain kan.

Mungkinkah.. ada pembaca nyasar yang sehari-harinya secara tidak sadari menjadi praktisi basa-basi seperti di atas? Yuk mulai sederhakan kembali pertanyaan kita pada mereka yang kita sebut teman. Hai, apa kabar? Itu sangat warm-hearted lho. Kita bisa bangun obrolan yang manis dikenang. Bahkan kita bisa menghindari menggunjing karena ngupas bahan dari kehidupan satu sama lain aja. Hikmah apa yang mungkin kita rasakan belakangan dan pengen kita share ke temen kita itu. Lalu setelah selesainya, nanti kita kembali pada keseharian kita sambil menyisipkan doa kebaikan baginya.

Last but not least, aku belum mengalami alergi seumur hidup. H dan ayahnya memiliki buanyaaak banget kesamaan. Pipi cubitable, gigi bercelah, sampai alerginya juga sama. Ini akan ku bahas di masa depan jika memungkinkan, karena sekarang aku belum siap. Aku ya mengalami pengalaman alergi itu saat membersamai mereka berdua. Tapi kalau besok-besok lagi ditanya, “Anggie kamu alergi apa?” udah tau mau jawab “alergi basa-basi” begitu saja. Soalnya rasanya agak sama.

3 tanggapan untuk “Alergi Basa-basi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s