Apakah kita the lifetime learner?

Kita millenials, hidup di jaman susah. Mereka bilang arti uang dan kekuasaan bertambah, sebaliknya arti pendidikan kian memudar. Agama? mungkin hal yang paling susah kita bangun, perlu kesabaran, keberanian untuk mengorbankan apapun, dan ridho-Nya sebagai tujuan akhir. Hari ini harga emas mencapai 1000k, kami yang ga punya aja ikut tercengang. Tapi abis itu balik lagi, kembali untuk mendidik diri dan keluarga untuk malu; sudah sekolah sampai universitas, tapi masih kurang belajar agamanya.

Di komunitas pembelajar yang kurasakan, si pembelajar seumur hidup memposisikan diri di tengah masyarakat. Mereka bisa pergi kemana saja yang menarik perhatiannya, entah itu mengajarkan kemampuan praktikal ataupun intelektual. Epidemiologist, sanitarian, dan profesional lainnya juga melakukan kaderisasi dalam bidang keahliannya. Sebagai pengajar, aku ingin mengajak kita menyadari suatu hal (yang kadang tidak disadari) bahwa semua guru, semua murid. Mbak Najeela Shihab yang pertama kali kudengar mengistilahkannya. Dari kedua hal tersebut, menurutku lingkungan seorang pembelajar akan mewarnai dirinya dan proses belajarnya.

Di salah satu lembar buku catatan ku pernah kutulis, sebagai manusia, ada 5 hal yang minimum kita pelajari… the faith to God, ilmu syariah, halal-haram, adab kepada orang lain, lalu science dan humanities. Sungguhnya, apa yang kita punya hanya sementara, tapi ada hal-hal yang bisa kita upayakan agar memiliki ‘nilai selamanya’.

Saya belum tau bagaimana menjawab pertanyaan judul tulisan ini sekarang, tapi tak belajar agama tak apa jika Anda yakini setelah tutup usia, segala cerita pun selesai begitu sahaja. Yang penting ayok belajar, ilmu apapun itu, kalau bisa yang paling kita yakini dapat memenuhi tujuan hidup kita kawan-kawan. Dan satu ilmu mungkin ya, yang ketika kita renta menunggu panggilanNya, tanpa banyak usaha belajar lagi nanti, bisa tinggal kita amalkan.

Dilanjutkan pada 7 September. Semoga tidak menjadi tambahan yang tanpa tiada arti, hehe.

5 tanggapan untuk “Apakah kita the lifetime learner?

  1. Mbaa gantung banget tulisannya, jadi penasaran ingin cepat-cepat minggu depan. Saya jadi refleksi diri, pendidikan dikejar-kejar, ilmu pengetahuan dielu-elu tapi agama seringkali ditinggalkan. Beberapa orang berpikir cukuplah untuk tahu yg utamanya saja, padahal agama itu pijakan utama dan pedoman seumur hidup. Gak bisa ada hal-hal yg kita anggap remeh temeh karena semuanya penting. Bahkan yg parahnya orang-orang jaman sekarang terkesan selalu denial setiap kali orang-orang membawa agama sebagai pedomannya dalam setiap argumen. Mereka pikir agama itu kolot, terlalu konservatif dan gak sejalan dengan era sekarang. Na’udzubillah kok gitu amat ya pola pikirnya.

    Anyways, salam kenal ya mba!👋🏻😊

    Disukai oleh 1 orang

    1. Halo Mba, salam kenal.

      Qadarullah saya baru bisa menulis lagi pekan ini. Hehe. Hiks

      Thank you so much ya Mba, I appreciate it so much. Saya jujur belum berani nulis banyak, masih belajar. Mohon doanya. Saya juga belajar dari yang mba bilang, masyarakat kita kok gini amat ya menilai pentingnya belajar agama. Refleksi betapa pentingnya untuk mulai minimal dari jaga diri dan keluarga

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s